Guru SMA Pembangunan Laboratorium UNP

Pembelajaran dan Administrasi Pembelajaran

2020

Litosfer merupakan bagian kerak Bumi yang paling luar. Litosfer disusun oleh batuan.
Batuan Penyusun Litosfer Bumi pada dasarnya dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu; Batuan Beku, Batuan Sedimen, dan Batuan Metamorf atau Batuan Malihan.
Berikut penjelasan lebih lanjutnya:
1.    Batuan Beku
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk karena magma atau lava yang membeku ( menjadi padat). Magma merupakan batuan cair dalam perut bumi, sedangkan lava merupakan batuan cair yang muncul ke permukaan Bumi.
Macam-macam batuan beku beserta proses terjadinya:

  • Pembekuan magma yang sangat lambat akan menghasilkan batu Granit. Ciri-ciri  batu Granit, yaitu butiran kasar dan berwarna-warni. Batu Granit biasa digunakan untuk membuat bangunan rumah, hiasan, patung, dan meja.
Batu Granit

  • Pembekuan lava yang cepat sekali akan menghasilkan batuan obsidian. Ciri-ciri batu obsidian, yaitu halus, licin, dan dapat dibuat tajam. Batu  obsidian ini dahulu digunakan manusia purba untuk membuat mata  tomba.
Batu Obsidian

  • Pembekuan lava encer yang cepat sekali akan  menghasilkan batu basal. Batu basalt ini tersebar di permukaan yang  sangat luas.
Batu basal atau Batu basalt

  • Pembekuan lava yang mengandung banyak gas akan menghasilkan batu apung. Batu ini banyak memiliki rongga.
batu apung

2.    Batuan Sedimen
Batuan Sedimen atau biasa disebut batuan endapan adalah hasil pengendapan dari batu beku yang telah mengalami proses pelapukan dan erosi. Pembentukan batuan sedimen terjadi dari:
(1)    Kikisan batuan oleh angin, air, dan es
(2)    Sisa makhluk hidup yang telah mati

Serpihan-serpihan kikisan tersebut akan terbawa ke dasar laut, kemudian mengendap dan membentuk lapisan-lapisan. Contoh-contoh batuan sedimen, yaitu:

  • Batu Serpih yang terbentuk dari lumpur yang bertumpuk-tumpuk. Batu serpih ini mengandung cadangan minyak dan biasa disebut semen.

  • Batu Pasir terbentuk dari pasir yang terseret air atau angin, kemudian pasir tersebut menumpuk dan mengeras. Batu pasir ini biasa digunakan untuk lantai bangunan dan batu pengasah. Di dalam batu pasir ini banyak mengandung sumber cadangan minyak dan gas.
Batu Pasir

  • Batu Kapur terbentuk dari binatang yang mengandung kapur yang membuat lapisan-lapisan keras. Batu kapur ini digunakan untuk bantalan jalan raya, campuran plastik atau karet, dan bahan bangunan
Batu Kapur

  • Batu konglomerasi biasa terbentuk dari lapisan-lapisan kerikil. Batu konglomerasi terbentuk dari lapisan-lapisan kerikil. Batu konglomerasi digunakan untuk hiasan.

3.    Batuan Metamorf (Malihan)

Batuan metamorf adalah yang terbentuk dari batuan beku atau batuan sedimen yang mendapat tekanan panas yang sangat tinggi. Sebagai contoh:
  • Pasir kuarsa, batu ini biasa digunakan untuk hiasan.
  • Batu Marmer, batu ini biasa digunakan untuk lantai dan meja
  • Batubara, batu ini biasa digunakan untukk bahan bakar
KONSEP BELAJAR MENURUT PANDANGAN ISLAM
Dr. HM. Zainuddin, MAJumat, 8 November 2013 . in Wakil Rektor I . 28761 views

Abstrak

Rasulullah SAW bersabda: “Mencari ilmu (belajar) wajib hukumnya bagi setiap orang Islam”. Dan pada kesempatan lain beliau pun pernah menganjurkan, agar manusia mencari ilmu meski berada di negeri orang (Cina) sekalipun; meski dari manapun datangnya. Hadis tentang belajar dan yang terkait dengan pencarian ilmu  banyak disebut dalam al-Hadis, demikian juga dalam Al-Qur’an al-Karim. Hal ini merupakan indikasi, bahwa betapa belajar dan mencari ilmu itu sangat penting artinya bagi umat manusia. Dengan belajar manusia dapat mengerti akan dirinya, lingkungannya dan juga Tuhan-nya. Dengan belajar pula manusia mempu menciptakan kreasi unik dan spektakuler yang berupa teknologi.
Belajar dalam pandangan Islam memiliki arti yang sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa juga akan sangat tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio, anugerah Tuhan untuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Hingga dalam al-Qur’an dinyatakan Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur (lihat : Qs. Al- Mujadilah : 11).
Apalagi dalam konsep Islam  terdapat keyakinan yang menegaskan, bahwa belajar  merupakan kewajiban dan berdosa bagi yang meninggalkannya. Keyakinan demikan ini begitu membentuk dalam diri umat yang beriman, sehingga  mereka memiliki etos belajar yang tinggi dan penuh semangat serta mengharapkan “janji luhur” Tuhan  sebagaimana yang difirmankan dalam ayat-Nya.
Bagaimanakah belajar menurut tuntutan Islam?  Bagaimana konsep dan landasannya? Bagaimana aspek nilainya.  Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Kemudian untuk memulai pembahasannya, di tampilkan beberapa konsep dan teori-teori belajar menurut konsep barat.
1. Pengertian Belajar 
Dalam konteks pendidikan, hampir semua aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas belajar. Para Pakar psikologi saling berbeda dalam menjelaskan mengenai cara atau aktivitas belajar itu berlangsung. Akan tetapi dari beberapa penyelidikan dapat ditandai, bahwa belajar yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang terbentuk dari pola pikir dan berbuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar ialah untuk memperoleh kesuksesan dalam pengembangan potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologis aktivitas belajar itu misalnya: motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan kejiwaan dan seterusnya.
Bahwa setiap saat dalam kehidupan mesti terjadi suatu proses belajar, baik disengaja atau tidak, disadari maupun tidak. Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut sebagai hasil belajar. Tapi untuk memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja dan terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas dasar ini, maka proses belajar mengandung makna: proses internalisasi sesuatu ke dalam diri subyek didik; dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.
Sumadi Suryabrata (1983:5) menjelaskan pengertian belajar dengan
mengidentifikasikan ciri-ciri yang disebut belajar, yaitu:
 “Belajar adalah aktivitas yang dihasilkan perubahan pada diri individu yang belajar ( dalam arti behavioral changes) baik aktual maupun potensial; perubahan itu pada pokoknya adalah diperolehnya kemampuan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama; perubahan itu terjadi karena usaha”.
Menurut Begge (1982:1-2), belajar adalah suatu perubahan yang berlangsung dalam kehidupan individu sebagai upaya perubahan dalam pandangan, sikap, pemahaman atau motivasi dan bahkan kombinasi dari semuanya. Belajar selalu menunjukkan perubahan sistematis dalam tingkah laku yang terjadi sebagai konsekwensi pengaalaman dalam situasi khusus.
Bertolak dari pemahaman di atas dapatlah ditegaskan, bahwa belajar senantiasa  merupakan perbuatan tingkah laku dan penampilah dengan serangkaian aktivitas misalnya: membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Dengan demikian, belajar juga bisa dilihat secara makro dan mikro, luas dan khusus. Dalam arti makro, luas, belajar dapat diartikan sebagai aktivitas ruhani-jasmani menuju perkembangan pribadi yang utuh.
Seperti yang dijelaskan oleh Bloom (1979), bahwa belajar itu mencakup tiga ruang lingkup, yaitu cognitive domain yang berkaitan dengan pengetahuan hapalan dan pengembangan intelektual, affective domain, yang berkaitan dengan minat, sikap dan nilai serta pengembangan apresiasi dan penyesuaian, psychomotor domain, yang berkaitan dengan prilaku yang menuntut koordinasi syaraf.
II. Teori-teori Belajar
Banyak para pakar membuat teori atau paradigma mengenai belajar ataupun pendidikan, dan mereka saling berbeda di dalam merumuskan teori atau konsep-konsep itu. Diversifikasi pemahaman itu dapat kita pahami jika kita lihat dari perspektif filosofisnya. Dan memang  patut diketahui bahwa filsafat merupakan teori umum dan landasan bagi pendidikan itu sendiri, oleh sebab itu hubungan antara keduanya merupakan suatu keharusan (condisio sin quanon).
Sebagaimana aliran essensialisme (yang dibentuk dari idealisme dan realisme), adalah memperhatikan pendidikan dari sisi nilai yang dapat mendatangkan kestabilan. Nilai-nilai tersebut diderivasi dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakangan ini, dengan perhitungan zaman renaisance, sebagai pangkal timbulnya (Barnadib, 1988: 38).
Menurut idealisme, bila seorang belajar, pada tahap awal adalah berarti ia memahami “aku”–nya sendiri, lantas bergerak keluar untuk memahami dunia objektif, dari mikro kosmos menuju makro-kosmos. Ini seperti juga yang dijelaskan oleh Kant (1942-1804), bahwa segala pengetahuan yang dicapai manusia lewat indera memerlukan unsur apriori yang tidak diketahui oleh pengalaman terlebih dahulu.
Bila seseorang berhadapan dengan benda-benda, tidaklah berarti bahwa mereka mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu, tetapi ruang dan waktu itu sudah budi manusia sebelum ada pengalaman dan pengamatan. Jadi, apriori yang terarah itu bukanlah budi kepada benda, melainkan benda-benda itulah yang terarah kepada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan berpikir diatas, belajar dapat didifinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada dirinya sendiri sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan dirinya sendiri (Pudjawijatno, 1964: 120-121).
Pandangan realisme mengenai belajar tercermin dalam pandangan atau aliran psikologi behaviorisme, asosiasionisme atau koneksionisme. A.L. Thorndike, pendukung koneksionisme misalnya menyatakan, bahwa belajar adalah berbagai kombinasi. Suatu bagian mental adalah menerima atau merasa, sedangkan bagian fisik adalah suatu stimulus atau respon. Secara khusus Thorndike melihat bahwa belajar adalah suatu proses hubungan mental dan fisik dan mental dengan mental atau fisik dengan fisik. Teori Thorndike ini juga dikenal dengan teori S – R bond  ( lihat Bigge, 1982:52-53).
Seorang filsuf dan sosiolog, L. Finney menjelaskan, bahwa mental adalah kondisi rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang ditentukan oleh peraturan alam (determinsm). Ini berarti bahwa pendidikan adalah proses reproduksi dari apa yang terdapat dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, belajar adalah menerima dengan sesungguhnya nilai-nilai sosial oleh angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan diteruskan oleh angkatan berikutnya. Pandangan realisme ini menceriminkan adanya dua jenis determinisme, yaitu determinisme mutlak dan determinisme terbatas. Yang mutlak menunjukkan bahwa belajar adalah mengenai hal-hal yang tak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada. Sedangkan dengan determinisme terbatas adalah memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar.
Tuntutan tertinggi  dalam belajar menurut perenialisme adalah latihan dan disiplin mental. Maka teori dan praktek pendidikan haruslah mengarah kepada tuntutan tersebut. Sebagai makhluk, manusia memiliki kelebihan ketimbang yang lainnya karena anugerah “rasio”-nya. Rasionalitas ini merupakan sifat umum manusia dan merupakan evidensi diri. Konsep dasar tentang kebebasan manusia juga lahir dari sifat rasional manusia. Dengan demikian manusia dapat menghilangkan belenggu penindasan terhadap dirinya dan mampu menjadi merdeka. Kemerdekaan menjadi tujuan dan dilaksanakan di dalam pendidikan dan belajar itu. Oleh sebab itu, belajar hakekatnya adalah belajar berpikir dan menggunakan rasio tersebut.
Menurut perenialisme, belajar adalah bertujuan agar anak didik mengalami perkembangan kepribadian yang utuh, integral dan seimbang sesuai dengan pandangannya, bahwa manusia adalah bersifat psiko-somatik (Barnadib, 1988: 77).
Menurut perenialisme, belajar itu dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu belajar karena pengajaran dan belajar karena penemuan. Belajar karena pengajaran adalah dengan cara guru/ pendidik memberkan pengetahuan dan pencerahan kepada subyek didik, dengan menunjukkan dan menafsirkan implikasi dari ilmu pengetahuan yang diberikan. Sedangkan belajar karena penemuan adalah subyek didik diharapkan dapat belajar atas kemampuannya sendiri (belajar mandiri ).
Pandangan di atas memang bersifat humanistik, yang memusatkan perhatian pada interes dan nilai-nilai kepada manusia. Teori humanisme klasik beranggapan, bahwa pikiran manusia adalah perantara aktif di dalam hubungan antara manusia dan lingkungannya, dan secara moral pikiran manusia mempunyai sifat dasar netral sejak lahir (Bigge, 1982: 26). Sifat netral tersebut maksudnya, bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat tidak jelek dan juga tidak baik, tetapi ia potensial untuk menjadi buruk atau baik (tidak ada hubunganya dengan pembawaan lahirnya) (Bigge, 1982: 16). Pandangan di atas didasari oleh konsep moral manusia, yaitu, bahwa substansi (pikir manusia adalah netral-aktif, yang harus dikembangkan lewat latihan dan disiplin mental. Dalam hal ini sebagai aspek yang mendasar adalah reason  yang menjadi manusia mampu mencapai pengertian tentang kebutuhan-kebutuhan dan mampu menyelaraskan antara tindakan, pengertian serta mampu mengkomunikasikan pengertian-pengertian tersebut kepada setiap anggota di dalam kelompoknya. Oleh sebab itu pula, maka pikiran manusia dengan sifat dasarnya yang demikian itu (netral- active) jika dilatih secara tepat, maka pontensi pembawa lahir akan mencuat keluar (Bigge, 1982: 26).
Oleh humanisme klasik, belajar dipandang sebagai proses disiplin diri yang tegas, terdiri dari perkembangan yang harmonis antara semua kekuatan di dalam diri manusia, Hingga tidak satu bagian pun yang berkembang melebihi yang lain. Dengan demikian, fungsi seorang guru adalah untuk membantu para siswa mengenali kembali apa yang telah ada dalam pikir mereka. Metode ini juga sekedar hanya menarik informasi dari para siswa dengan mengarahkan pertanyaan-pertanyaan dengan ketrampilan penuh. Metode ini didasarkan pada prinsip, bahwa ilmu pengetahuan adalah pembawaan, yang tak akan muncul tanpa bantuan tenaga ahli (Bigge, 1982: 28).
Learning through unfoldment atau disebut juga naturalisme-romantic  mengatakan, bahwa manusia pada dasarnya adalah baik dan aktif (good-active). Melalui alam anak akan berkembang secara wajar. Biarkan anak berkembang sendiri sesuai dengan kodrat alam. Anak harus dijauhkan dari paksaan. Belajar sendiri sesuai dengan minatnya, ia  bebas menentukan perbuatannya dan sekaligus bertanggung jawab atas tindakannya. Teori ini dikembangkan oleh J.J. Rousseu, kemudian disusul oleh pembaharu pendidikan dari Swiss, Pestlozzi dan Froebel seorang filosof dari Jerman (Bigge, 1982: 33-34).
Rousseu berpendapat, bahwa secara heriditi manusia adalah baik dan mempunyai kemampuan yang perlu dikembangkan secara alamiah. Dia beranggapan bahwa lingkungan yang jelek mampu membuat orang menjadi jelek pula, sebab lingkungan sosial bukanlah alamiah. Rousseu memberi saran, agar guru memberikan kebebasan pada siswa untuk mandiri, sehingga memungkinkan mereka berkembang secara wajar dan alamiah, baik perasaan, naluri maupun kesadaran mereka.
Disamping  naturalisme-romantic, terdapat pula pandangan appersepsi, yang merupakan asosianisme mental dinamis yang didasarkan pada pemikiran, bahwa tidak ada ide-ide pembawaan lain. Segala sesuatu yang diketahui orang datangnya dari luar dirinya. Asosionisme merupakan teori psikologi umum yang di klasifikasikan menjadi dua bagian : pertama, Asosiasionisme mentalistik awal, yaitu appersepsi yang berfokus pada ide-ide dalam pikiran; kedua, asosiasinosme stimulus-respon fisikalistik yang lebih modern (Bigge, 1982: 36).
Perkembangana appersepsi didasari oleh pemikiran Aristoteles pada abad ke-empat S.S. Kemudian pada abad ke 17 ditentang oleh John Locke dengan mengatakan, bahwa pikiran tidak hanya dipegang oleh seseorang pasti pertama-tama diperoleh dari indera-inderanya. Teori John Locke ini sangat populer dengan teori Tabolarasa. Konsep moral appersionisme  adalah, bahwa sifat asli manusia adalah tidak baik dan tidak pula jelek dipandang dari sisi moral dan tidak pula aktif dipandang dari sisi aksi. Dibaliknya sifat asli manusia dipandang sebagai netral dari aspek moral dan pasif dari aspek aksi. Dengan demikian, pikiran merupakan produk dari pengalaman-pengalaman kehidupan (Bigge, 1982: 37).
III. Prinsip-prinsip Belajar Menurut Islam
1. Al Qur’an tentang Posisi Manusia
Kita ketahui bersama, bahwa Al-Qur’an adalah kalam suci Tuhan yang berfungsi sebagai: tanda, petunjuk, rahmat dan shafaat bagi manusia, berdasarkan penegasan Al Qur’an, (QS. Al–Isra’: 29 : Ar-Rum : 72). Syafi’i Ma’arif, seperti dikutip dari Ismail R. Faruqi, menjelaskan, bahwa manusia adalah karya Tuhan yang terbesar dan terindah dengan struktur mental yang sophisticated dan spektakuler (QS. At-Tin : 4). Oleh sebab itu, tidak heran pula kalau ada yang berpendapat, bahwa manusia adalah pencipta kedua setelah Tuhan. Ini bisa kita saksikan, betapa manusia dianugrahi rasio oleh Tuhan itu bisa menciptakan kreasi yang canggih berupa sains dan teknologi itu. Sementara malaikat diperintah sujud kepadanya karena tak mampu melakukan kompetisi intelektual dengan makhluk manusia yang diciptakan dengan tanah liat kering itu (QS. Al-Isra’: 28-30; Shad : 71-73) di dalam memahami dunia ciptaan-Nya secara konseptual (lihat: Syafi’i Ma’arif, 1987: 92).
Kelebihan intelektual inilah yang membuat manusia lebih unggul dari makhluk lainnya. Tetapi ia pun juga bisa menjadi dekaden, bahkan lebih hina dari binatang, jika ia berbuat destruktif, melepaskan imannya (lihat : Qs. At-Tin : 5-6 dan QS. Al-A’raf : 179). Oleh sebab itu, sebagai makhluk lainnya maka ia dituntut agar dengan sadar bersedia memikul tanggung jawab moral bagi tegaknya suatu tatanan sosial politik yang adil dan beradab. Tuntutan itu tercermin dalam beberapa ayat Al-Qura’an surat An-Nahl : 90 ; Ali-Imron : 104, 114 ; Al-Hajj : 41 ; Al-Ahzab : 72.
Tatanan kehidupan yang bermoral ini hanyalah mungkin apabila iman sebagai prasyarat mutlaknya diterima dengan kritis dan sadar. Dalam sistem kepercayaan Islam, iman memberikan fondasi moral yang kokoh, dan di atas fondasi inilah manusia bisa menciptakan hidup secara imbang (Ma’arif. 1997: 93).
Dalam Islam, strategi pengembangan ilmu juga harus didasarkan pada perbaikan dan kelangsungan hidup manusia untuk menjadi khalifah di bumi (khalifah fil-ard) dengan tetap memegang amanah besar dari Allah SWT. Oleh sebab itu ilmu harus selalu berada dalam kontrol iman. Ilmu dan iman menjadi bagian integral dalam diri seseorang, sehingga dengan demikian yang terjadi adalah ilmu amaliah yang berada dalam jiwa yang imaniah. Dengan begitu, teknologi, yang lahir dari ilmu, akan menjadi barang yang bermanfaat bagi umat manusia di sepanjang masa. Dan inilah yang mesti menjadi tanggung jawab umat Islam.
Banyak sekali Al-Qur’an menjelaskan mengenai hubungan ilmu, amal dan iman ini (lihat misalnya QS. Al-Baqarah : 82, 227 ; Ali-Imran : 57 ; An-Nisa’ : 57, 122 dan seterusnya). Dari banyak ayat Al-Qur’an ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa antara ilmu, amal dan iman menjadi sangat penting bagi umat manusia yang hendak menjadi khalifah di bumi ini. Dan amal baru bisa dinilai baik, saleh jika dipancarkan dari iman. Iman memberi dasar moral, amal saleh diwujudkan dalam bentuk konkret. Jadi terdapat hubungan yang organik antara iman dan amal salih.
2. Dasar Belajar dalam Islam
Sebagaimana pandangan hidup yang dipegang-teguhi oleh Umat Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasul , maka sebagai dasar maupun filosofi bagi belajar adalah juga diderivasi dari dua sumber tersebut, yang merupakan dasar dan sumber bagi landasan berpijak yang amat fondamental.
Tentang dua sumber ajaran yang fundamental ini, Allah SWT, telah memberikan jaminan-Nya, yaitu jika benar-benar dipegang teguh, maka dijamin tidak akan pernah sesat dan kesasar, sebagaimana Nabi pernah bersabda :
“Susungguhnya telah aku tinggalkan untukmu dua perkara, jika kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tak akan sesat selamanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”
Hadis tersebut juga dikukuhkan oleh banyak Al-Qur’an, antara lain surat Al-Ahzab: 71,  Allah berfirman :
“Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia akan mencapai kebahagiaan yang tinggi”.
Ayat tersebut dengan tegas menandaskan, bahwa apabila manusia menata seluruh aktivitas kehidupannya dengan berpegang teguh kepada prinsip Al- Qur’an dan As-Sunnah, maka jaminan Allah adalah jalan yang lurus dan tidak akan kesasar, tetapi sebaliknya, jika manusia tidak menata seluruh kehidupannya dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasul-Nya, maka kesempitan akan meliputi dirinya, sebagaimana firman-Nya :
“Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit”. (Qs. Thaha : 124).
Al-Qur’an dan Al-Hadis penuh dengan konsep dan tuntutan hidup manusia, begitu juga mengenai petunjuk ilmu pengetahuan. Jika manusia mau menggal kandungan isi Al-Qur’an, maka banyak diketemukan mengenai beberapa persoalan yang berkaitan dengan ilmu (baik ilmu pengetahuan sosial maupun ilmu pengetahuan alam), Misalnya perhatikan surat Ali Imran : 190-191. Disini dipaparkan tentang kreasi penciptaan alam oleh Allah SWT. Yang harus direnungkan, demikian pula tentang kisah dan sejarah umat-umat di masa lampau.
            Sebagaimana dikatakan oleh Munawar Anis (1991), bahwa kata ilmu disebutkan dalam Al-Qur’an mencapai 800 kali, yang berarti hanya berada di bawah konsep tauhid tingkatan urgensinya. Belum lagi yang disebutkan dalam Al- Qur’an atau Sunnah Rasul.
2. Tujuan Belajar dalam Islam
Untuk membahas mengenai aspek-aspek moral dalam belajar, maka kita harus memulai dari pertanyaan: Apa tujuan belajar itu?  Untuk apa belajar itu? karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan filosofis yang menyangkut segi nilai atau aksiologis.
Dalam Islam, bahwa belajar itu memiliki dimensi tauhid, yaitu dimensi dialektika horizontal dan ketundukan vertikal. Dalam dimensi dialektika horizontal, belajar dalam Islam tak berbeda dengan belajar pada umumnya,  yang tak terpisahkan dengan pengembangan sains dan teknologi (menggali, memahami dan mengembangkan ayat-ayat Allah). Pengembangan dan pendekatan-Nya secara lebih dalam dan dekat, sebagai rab al-alamin. Dalam kaitan inilah, lalu pendidikan hati (qalb) sangat dituntut agar membawa manfaat yang besar bagi umat manusia dan juga lingkungannya, bukan kerusakan dan kezaliman, dan ini merupakan perwujudan dari ketundukan vertikal tadi.
Jadi, belajar di dalam perspektif Islam juga mencakup lingkup kognitif (domain cognitive), lingkup efektif (domain affective) dan lingkup psikomotor (domain motor-skill). Tiga ranah atau lingkup tersebut sering diungkapkan dengan istilah : Ilmu amaliah, amal ilmiah dalam jiwa imaniah.  Dengan demikian, untuk apa belajar Belajar adalah untuk memperoleh ilmu. Untuk apa ilmu? Untuk dikembangkan dan diamalkan. Untuk apa? Demi kesejahteraan umat manusia dan lingkungan yang aman sejahtera. Berdasarkan apa? Pertanggungjawaban moral.
3. Mengembangkan Ilmu
Kenyataan memang tidak dapat dipungkiri, bahwa ilmu selalu berkembang hingga sekarang. Dari tahapan pemikiran yang paling mitis hingga yang serupa rasional. Atau kalau meminjam terminologi Peursen, dari yang Mitis, ontologis, hingga fimgsional, sedang menurut Comte, dari yang mitis, metafisik  hingga positif.
Perkembangan industri di abad ke-18 yang telah menimbulkan berbagai implikasi sosial dan politik telah melahirkan cabang Ilmu yang disebut sosiologi. Penggunaan senjata nuklir sebagaimana pada abad 20, telah melahirkan ilmu baru yang disebut dengan polemogi, dan seterusnya entah apa lagi nanti namanya. Sofestikasi dari sains dan teknologi di era modern ini sesungguhnya juga merupakan elaborasi dari ilmu itu sendiri. Itulah sebabnya menurut Koento Wibisono, (1988: 8) begitu sulitnya mendifikasikan ilmu sekarang ini. Para penganut metodologi akan menyatakan, bahwa ilmu adalah sistem peryataan-peryataan yang dapat diuji kebenaran dan kesalahannya, sementara penganut heuristik akan menyatakan, bahwa ilmu adalah perkembangan lebih lanjut bakat manusia untuk menentukan orientasi terhadap lingkungannya dan menentukan sikap terhadapnya.
Dalam pada itu, ilmu juga sering dipahami dari dimensi fenomenal dan strukturalnya. Dari dimensi fenomenalnya ia merupakan masyarakat atau proses dan juga produk. Ilmu sebagai masyarakat menggambarkan adanya suatu kelompok elit yang di dalam kehidupannya sangat mematuhi kaidah-kaidah: universalisme, komunilisme, desintestedness dan skepsisme  yang teratur. Ilmu sebagai proses, menggambarkan aktivitas masyarakat ilmiah sebagai produk adalah merupakan hasil yang dicapai oleh kegiatan tadi yang berupa : dalil, teori, ajaran, karya-karya ilmiah beserta penerapanya yang berupa teknologi ( Koento Wibisono, 1988: 9) Dari dimensi strukturalnya, apa yang disebut sebagai ilmu adalah sesuatu yang menunjukkan adanya komponen-komponen: objek sasaran yang ingin diketahui yang terus menerus diteliti dan dipertanyakan tanpa mengenal henti.
Kini kita harus berfikir terus dan berupaya untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu, lebih-lebih ilmu sebagai proses. Bagaimana formulasi-formulasi yang telah ditunjukan oleh para para pendahulu kita itu diaktualisasikan untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut.
Dalam konteks Islam, ketertinggalan kita di bidang sains dan teknologi adalah persoalan yang sudah terbuka mata. Padahal, seperti yang dikatakan oleh Ahmad Anees (19-91), bahwa salah satu gagasan yang paling canggih, komperehensif dan mendalam yang dapat ditemukan dalam Al- Qur’an adalah konsep’ilm, yang tingkat urgensinya hanya di bawah konsep tauhid. Pentingnya konsep ilmu tersebut terungkap didalam kenyataan, bahwa Al-Qur’an menyebut kata akar dan kata keturunannya sekitar 800 kali. Konsep ilmu ini juga membedakan pandangan-dunia (world-view) Islam dari pandang ideologi lainnya: tidak ada pandangan dunia lain yang membuat pencarian ilmu sebagai kewajiban individual dan sosial serta memberikan arti moral dan religius serta ibadah. Karena itu ilmu berfungsi sebagai tonggak kebudayaan dan peradaban muslim yang ampuh. Tidak ada peradaban lain dalam sejarah yang memiliki konsep “pengetahuan” dengan etos (ruh) yang paling tinggi sebagaimana Islam. Ilmu memang mengandung unsur dari apa yang selama ini kita pahami sekarang sebagai pengetahuan, tetapi ia juga mengandung komponen-komponen dari apa yang secara tradisional dideskripsikan sebagai hikmah. Disamping itu, ilmu dalam Islam juga memiliki aspek ibadah, yaitu bahwa menuntut ilmu merupakan bentuk ibadah. Dari sisi lain, ia juga memiliki tujuan untuk menjadi kholifah fil-ard, manusia yang diserahi amanah Tuhan untuk mengelola dan memelihara alam, oleh sebab itu ia pun memiliki tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Konsep Al-Qur’an tentang akhirat membatasi ilmu agar selalu menjamin relevansi, kegayutan moral sosialnya. Dimensi-dimensi ilmu tersebut dari sekian banyak dimensi lainnya melukiskan sifat kecanggihan dan komplesitas dari Islam tentang ilmu itu sendiri (lihat, Anwar Anees, 1991:93).
Dengan demikian, strategi pengembangan ilmu harus mengintensifkan dan mengekstensifkan belajar atau pendidikan itu sendiri, dengan berbagai sarana dan presaranannya. Sebab dalam Islam, pendidikan dan belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim (baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda dan dilakukan sepanjang masa). Sebagai sabda Nabi : “Mencari ilmu itu waji bagi setiap muslim”.
Sebagaimana disinggung di depan, bahwa belajar dalam Islam adalah untuk memperoleh ilmu, mengembangkan dan mengamalkan demi kepentingan kesejahteraan umat manusia. Atau kalau dirumuskan secara simpel, tujuan belajar adalah : Untuk mengabdikan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya :
“Dan tidak aku jadikan manusia kecuali  hanya untuk menyembah kepada-Ku”. (QS. Az-Zariyat : 56).
Oleh sebab itu segala aktivitas yang berkaitan dengan ilmu dan pengembangannya harus dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.
4. Aspek Moral dalam Belajar
Karena pendidikan dan belajar dalam Islam bertujuan untuk mengembangkan ilmu dan mengabdi kepada Allah SWT, maka sistem moralnya juga harus diderivasi dari norma-norma Islam tersebut, atau wahyu.
Seperti yang dijelaskan oleh Sayid Abul A’la Al-Maududi (lihat,  M. Arifin, 1991:142), bahwa sistem moral Islam ini memiliki ciri-ciri yang komprehensif, yang berbeda dengan sistem moral lainnya. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Keridaan Allah merupakan tujuan hidup Muslim. Dan keridaan Allah itu menjadi jalan bagi evolusi moral kemanusiaan. Sikap mencari rida Allah memberikan sanksi moral untuk mencintai dan takut kepada-Nya, yang pada gilirannya mendorong manusia untuk mentaati hukum moral tanpa paksaan dari luar, Dengan dilandasi dengan iman kepada Allah dan hari kiamat, manusia terdorong untuk mengikuti bimbingan moral secara sungguh-sungguh dan jujur, seraya berserah diri secara iklas kepada Allah SWT ;
  2. Semua lingkup kehidupan manusia senantiasa ditegakkan diatas moral Islami sehingga moral Islam tersebut berkuasa penuh atas semua urusan kehidupan manusia, sedang hawa nafsu dan kepentingan pribadi tidak diberi kesempatan menguasai kehidupan manusia. Moral Islam mementingkan keseimbangan dalam semua aspek kehidupan manusia: indivudual maupun sosial.
Islam menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang berdasarkan norma-norma kebajikan dan jauh dari kejahatan. Islam memerintahkan perbuatan yang ma’ruf dan menjauhi perbuatan munkar, bahkan memberantas kejahatan dalam segala bentuknya. Beberapa hal di atas di dasarkan atas dalil Al-Qur’an antara lain surat Ali- Imran : 110 :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah....” dan juga QS. Al-Hajj : 41).
Dengan demikian, sistem moral dalam Islam berpusat kepada sikap mencari rida Allah, mengendalikan nafsu negatif dan kemampuan berbuat kebajikan serta menjauhi perbuatan keji dan jahat dan pribadi yang berkhlaq mulia.
Dalam pandangan Islam, kecenderungan teosentris adalah merupakan sesuatu yang harus ada, yaitu bahwa Allah adalah Zat Yang Wujud, Yang Maha Mengetahui dan segala sumber dari ilmu pengetahuan. Ini sangat berbeda dengan konsep barat yang sekuler. Karena sumber pengetahuan dalam Islam adalah kesadaran Yang Kudus pula (Seyyed Hossein Nasr, 1970: 22 dan lihat pula C.A Qadir, 1989: 5).
Seperti yang dijelaskan di depan, bahwa menurut teori kependidikan yang berdasarkan pandangan psikologi mekanistik, sejak John Lock pada abad 17 sampai aliran Bahaviorisme dari J.B. Waston abad 20 terdapat pandangan, bahwa manusia dalam batas-batas kemampuan fisiknya dapat dibentuk melalui cara-cara yang terbatas. John lock berpendapat, bahwa jiwa itu bagaikan meja lilin (tabularasa) yang bersih dari goresan. Pengalamanlah yang membentuk kepribadiannnya. Behavviorsme juga berbuat sama, dengan konsep S – R bond-nya.
Dalam sistem nilai dari paham naturalisme juga diorientasikan pada alam (naturo-centris): jasmaniah, panca indera, kekuatan, kenyataan, survival, organisme dst. Oleh sebab itu naturalisme menolak hal-hal yang bersifat moral dan spiritual, sebab paham ini, bahwa kenyataan/ realistas yang hakiki adalah alam semesta yang bersifat fisik dan inderawi. Naturalisme dekat dengan materalisme yang menafikan nilai-nilai manusia.
Kebalikan dari paham di atas adalah idealisme, yang memandang realitas yang hakiki ada pada ide yang terdapat dalam jiwa atau spirit manusia. Idialisme berorientasi pada ide-ide ketuhanan dan nilai-nilai sosial.
Tetapi perlu diketahui, bahwa meskipun idealisme berorientasi kepada ideal-spiritual, ia bukanlah agama, idealisme hanyalah merupakan salah satu basis dari agama. Menurut Horne, idealisme sebagai filsafat adalah sistem berpikir manusia (man-thinking), sementara agama adalah sistem peribadatan manusia (man– worshipping). Filsafat dan agama mempunyai hubungan erat, tetapi tidak identik (lihat M. Arifin, 1991:149).
Nilai-nilai pendidikan menurut kaum idealisme adalah pencetusan dari sususan atau sistem yang kekal abadi yang memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Kewajiban manusia dan pendidikan adalah berusaha mengaktualisasikan nilai tersebut. Filsafat pendidikan Islam dalam beberapa aspek pendekatan memang memiliki prinsip-prinsip yang simbiotik dengan idealisme, terutama idealisme spiritualistik. Idealisme juga mengakui adanya zat yang Maha Tinggi yang menciptakan realitas alam serta menggerakkan hukum-hukumnya termasuk sanksi-sanksinya. Tetapi ada titik perbedaan yang cukup tajam yang terletak pada sanksi moral sebagai konsekwensi. Bagi kaum idealisme, sanksi moral terletak pada siksa Tuhan dan balasan perbuatan yang bermoral baik adalah pahala dari-Nya kelak di hari kiamat. Kualifikasi moral dalam Islam adalah sumber dari Tuhan dan bagi setiap orang sanksi hukuman tergantung kepada sejauh mana porsi perbuatan yang dilanggarnya (M. Arifin, 1991: 150-151) dan bukankah Nabi diutus untuk menyempurnaka akhlak-karimah?
Jadi, dalam kosepsi Islam, belajar itu diajarkan mengenai masalah pahala, dosa; sorga dan neraka. Oleh sebab itu setiap perbuatan haruslah dapat dipertanggung jawabkan di sisi Tuhan, sebagaimana firman-Nya :
“.... Ia mendapat pahala ( dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa   (dari kejahatan) yang diperbuatnya pula ........”   (QS. Al- Baqarah : 286).
Daya pancar dari sistem nilai yang menerangi moralitas manusia menurut pandangan Islam adalah bersumber dari Allah yang digambarkan dalam surat Al-Maidah : 115-116:
“....Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah kitab yang menerangi”. Dengan kitab itulah Allah menjuluki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya kejalan keselamatan, dan, (dengan kitab-kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”.
 “Dan barang siapa beriman kepada Allah, Allah akan menunjuki hatinya”. (QS. At-Taghabun : 11)
Beberapa keterangan di atas semakin menunjukkan kejelasan kepada kita, bahwa konsep kependidikan dan kejelasan kepada kita, bahwa konsep kependidikan dan belajar dalam Islam sangat berbeda dengan konsep pendidikan dan belajar menurut teori-teori Barat yang sekuler lebih bersifat profan dan antroposentrik. Sementara konsep Islam sangat integral, disamping profan  juga transendental dan teosentrik yang menempatkan posisi manusia pada porsi yang balanceRabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina azabannar,
Penutup dan Kesimpulan
Belajar adalah serangkaian aktivitas manusia yang menyangkut: pemahaman, pendengaran dan peniruan untuk memperoleh suatu pengalaman atau ilmu baru. Lingkup belajar mencakup : kognisi, afeksi dan psikomotor.
Dalam Islam, belajar adalah serangkaian aktivitas manusia yang menyangkut tiga ranah di atas (kognisi, afeksi dan psikomotor) berdasarkan Al-Qur’an  dan As-Sunnah. Dalam Islam, belajar merupakan kewajiban setiap muslim ( baik laki-laki maupun perempuan). Dan hasil dari belajar (ilmu), harus diamalkan baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain. Pengalaman ilmu harus dilandasi dengan iman dan nilai-nilai moral. Oleh sebab itu, dalam konsep Islam, belajar memiliki dimensi tauhid, yaitu dimensi dialektika horizontal maupun ketundukan vertikal.
Dalam dimensi dialektika horizontal, belajar dalam Islam tak berbeda dengan belajar pada umumnya, yang tidak terpisahkan dengan pengembangan sains dan teknologi (menggali, memahami dan mengembangkan) intelektual ke arah pengenalan dan pendekatan diri pada Tuhan Yang Maha Agung (divine-unity). Ini juga berarti, bahwa belajar dalam Islam bertujuan untuk memperoleh kesejahteraan umat manusia dan lingkungannya dengan motivasi ibadah (lihat, QS. Az-Zariayat : 56). Oleh sebab itu segala aktivitas yang berkaitan dengan ilmu dan pengembangannya harus dipertanggungjawabkan secara moral kepada Allah SWT.      ( Lihat,  QS Al-Baqarah : 286).
Karena pendidikan dan belajar dalam Islam bertujuan untuk mengembangkan ilmu dan mengabdi kepada Allah SWT, maka sistem moralnya pun harus di bangun dan bersumber dari norma-norma Islam tersebut (wahyu).
Filsafat pendidikan Islam berbeda dengan filsafat pendidikan Barat yang sekuralistik, yang meletakkan sanksi moral terletak pada susunan dunia moral itu sendiri, sementara dalam Islam sanksi moral terletak pada siksa Tuhan di kelak kemudian, demikian pula balasan kebaikannya. Dengan demikian konsep pendidikan dan belajar dalam Islam bercorak transendental dan teosentris  yang menempatkan manusia pada posisi yang seimbang dan serasi.
DAFTAR  PUSTAKA
 Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Al-Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Fikr.tt.
Bigge. Morris, L, Learning Theories For Teacher, New York Harper&Row, 1982.
Blom, Benjamin S, et. al, Taxonomy of Education Obyektive The Classification  of Education Goal, New York, David McKey, 1974.
C.A. Qadir, Filsafat pendidikan  : Sistem Dan Metode,  Yogyakarta, Andi ofset, 1988.
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Depag RI, 1990.
Hamad Syafi’i  Maarif, “Posisi Umat Islam Terhadap Perkembangan Teknologi Modern”, dalam Ahmad  Busyairi dan Azharuddin Sahil (peny.), Tantangan Pendidkan Islam Yogyakarta, LPM UII, 1987.
Imam Barnadib, Filsafat pendidkan: Sistem Dan Metode, Yogyakarta, Andi ofset, 1988
Koentowibisono, Beberapa Hal Tentang Filsafat Ilmu, Sebuah Sketsa Umum Sebagai Pengantar Untuk Memahami Hakekat Ilmu dan Kemungkinan Pengembangannya, Yogyakarta, IKIP PGRI,1988.
M. Arifin, Filsafat Pendiddikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara 1991.
Munawar Ahmad Anees, “Menghidupkan Kembali Ilmu” dalam AL-HIKMAH, jurnal studi-studi Islam, Juli Oktober 1991.
Pujowijatno, Pembimbing Kearah Filsafat, Jakarta, PT. Pembangunan, 1963.
Salim Bahreisy, Terjemah Riyadh al-Shalihin, al-Maarif Bandung, 1978,
Seyyed Hoesen Nasr, Scinence and Civilization in Islam The New American Library, 1970.
Sumadi Suryabrata, Proses Belajar mengajar Di Perguruan Tinggi, Yogyakarta, Andi Ofset, 1983.
(Author)

                                      PERSAMAAN DASAR AKUNTANSI


Pengertian Akuntansi

Akuntansi yaitu pengukuran,penjabaran dan pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manager, investor, otoritas pajak maupun pembuat keputusan lain untuk pembuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi dan lembaga pemerintahan.

Pengertian Persamaan Dasar Akuntansi

Merupakan hubungan antara harta, hutang dan modal dari sebuah perusahaa, karena setiap transaksi bisnis mempengaruhi minimal dua akun perusahaan

Persamaan akuntansi akan selalu dalam keseimbangan yang berarti sisi kiri harus selalu sama dengan sisi kanan yang artinya setiap transaksi harus tercatat seimbang dalam dua aspek yaitu sisi kiri (aktiva) dan sisi kanan (pasiva)

                   Materi Pembelajaran Pertemuan 1 :

a. Pembagian kekuasaan negara
 Menurut John Locke teori pembagian kekuasaan negara dibagi atas 3  yaitu :
1. kekuasaan legislatif yaitu kekuasaan untuk membuat Undang- undang
2. kekuasaan eksekutif yaitu kekuasaan untuk melaksanakan Undang- undang
3. kekuasaan yudikatif yaitu kekuasaan untuk mengawasi

Tidak dapat dipungkiri, ketika hari ini mata kita begitu terkejut melihat perubahan zaman yang semakin hari semakin jauh dari kondisi masa lalu yang dihadapi oleh orang tua seusia kita. Anak-anak masa sekarang yang dikenal dengan anak zaman now atau anak millenial,  sebahagian dari mereka mulai mengatur jarak komunikasi dengan orang tua mereka. Hal ini terjadi karena begitu besar pengaruh teknologi yang mereka rasa dan dapatkan sehingga hubungan sosial sebagai anak dengan orang tua terasa mulai begitu jauh. Anak-anak mulai mendapatkan kesibukan lain melalui penggunaan handphone, internet atau media sosial lainnya. lalu yang jadi pertanyaan kita sekarang, akankah hal ini akan dibiarkan berlarut-larut? jawabannya ada pada kita yang masih punya keyakinan dan kesadaran bahwa anak itu milik kita buka milik sosial media. biarkan merka banyak bercerita dengan kita sebagai orang tua bukan dengan massa yang tidak diketahui siapakah mereka, apakah merka ingin memelihara anak-anak kita ataukah mereka akan menghancurkan

          Kita sering mendengar dan melihat siswa yang bosan dengan mata pelajaran tertentu, mungkin salah satunya adalah Bahasa Indonesia. Siswa seakan menganggap pelajaran ini tidak penting karena sudah biasa di gunakan dalam sehari-hari. Padahal banyak hal yang belum kita ketahui, terbukti nilai Ujian Nasional (UN) untuk Bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMA beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Untuk mengatasi hal ini, bermacam cara dilakukan untuk menjadikan pembelajaran ini menjadi menyenangkan bagi siswa. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjadikan siswa tertarik dengan pelajaran Bahasa Indonesia.




RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan                                  : SMA PEMBANGUNAN LABORATORIUM  UNP
Mata Pelajaran                                        : Sejarah Wajib
Kelas/Semester                                       : XI/ II
Materi Pokok                                          :  Tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam            memperjuangkan kemerdekaan
Pertemuan ke                                        : 15-17
Alokasi Waktu                                       : 2 Pertemuan (4 x 45 menit)
A.    Kompetensi Inti        
Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual yaitu “ Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial yaituMenghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3. Memahami ,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai denga bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4  Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

B.     Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.6  Menganalisis peran tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pertemuan Pertama:
3.6.1.Menjelaskan  peran tokoh nasional dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
Pertemuan Kedua
3.6.2.Menganalisis peran tokoh daerah dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
4.6  Menulis sejarah tentang satu tokoh nasional dan tokoh dari daerahnya yang berjuang melawan penjajahan

Pertemuan pertama:
4.6.1 Membuat media pembelajaran dengan menggunakan aplikasi computer (Microsoft power point atau movie maker dll), tentang sejarah organisasi regional dan global. Tujuannya yaitu untuk memanfaatkan teknologi dan menghemat pemakaian kertas dalam pengerjaan tugas.
Pertemuan kedua:
4.6.2 Meng-upload lalu meng-share media pembelajaran yang telah dibuat lewat media sosial seperti: Youtube, Facebook, WhatApp, e-mail, Blog dll. Hal ini dilakukan supaya dapat membagikan informasi sejarah yang telah didapatkan.

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan Pembelajaran dengan pendekatan saintifik menggunakan model pembelajaran Discoveri Learning melalui studi literature peserta didik mampu Menganalisis peran tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya peserta didik mampu menjelaskan dalam bentuk cerita sejarah, dengan rasa rasa ingin tahu, tanggung jawab, displin selama proses pembelajaran, bersikap jujur, santun, percaya diri dan pantang menyerah, serta memiliki sikap responsif (berpikir kritis) dan pro-aktif (kreatif), serta mampu berkomukasi dan bekerjasama dengan baik.

D.  Materi Pembelajaran
Fakta
·         Perlawanan yang terjadi pada abad ke 16 di berbagai daerah ditujukan krpada portugis, spanyol dan belanda. Kemudian perlawanan rakyat abad ke-17 dan 18 umumnya ditujukan kepada dominaso kongsi dagang VOC
Konsep
·         Perlawanan rakyat Indonesia dilatarbelakangi karena tindakan monopoli, keserakahan dan intervensi politik dengan devide et impera dari pemerintahan kongsi dagang itu


Prinsip
·         Perlawanan rakyat Indonesia umumnya dapat dipatahkan oleh kekuatan musush yang sering berlaku licik dan memiliki persenjataan yang lengkap
·         Akibat dominasi pemerintahan kongsi dagang dan kekalahan perlawanan rakyat berdampak sebagian besar kepulauan Indonesia dikuasai kekuasaan asing terutama VOC

Materi Pengayaan dan Remedial
1.      Materi Pengayaan
Memberikan pendalaman materi dengan soal:           
Apakah usaha yang dilakukan untuk penyebarluasan berita Proklamasi !
2.      Materi Remedial
Materi remedial akan ditetapkan sesuai dengan materi yang tidak dikuasai  siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran

E.     Sumber Belajar
Hapsari, Ratna. 2012. Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI Kelompok Wajib.   Jakarta: Erlangga.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Sejarah Indonesia kelas XI. Jakarta: Kementrian Kebudayaan dan Kebudayaan.
Sartono Kartodirdjo. 1984. Sejarah Nasional IndonesiaJilid. Jakarta: Balai Pustaka.
Internet:
http://ilmu-ilmu-sosial.blogspot.co.id/2016/01/tokoh-tokoh-nasional-dan-daerah-dalam.html

F.     Alat dan Media Pembelajaran
Media  : Gambar Pangeran Diponegoro
Alat     : Papan Tulis, Spidol, Laptop, Infocus
G.    Pendekatan dan Model Pembelajaran
1. Pendekatan          : Scientific Approach
2. Model                   : Discovery Learning
3. Metode                 : Ceramah, Tanya Jawab Kerja kelompok dan Penugasan




H.    Langkah-langkah Pembelajaran
1.      Pertemuan Pertama
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
10 Menit
1.      Guru mengucapkan salam kepada peserta didik saat memasuki ruang kelas.
2.      Guru bersama Peserta didik melakukan kegiatan religious dan kegiatan literasi, sebelum memulai pelajaran
3.      Guru melakukan pengelolaan kelas (Guru memeriksa kesiapan peserta didik untuk belajar, mulai dari kebersihan kelas, kerapian pakaian siswa, serta kerapian meja dan kursi).
4.      Guru memeriksa absensi peserta didik.
5.      Guru menyiapkan alat, media, dan buku sumber yang diperlukan
6.      Guru melakukan tanya jawab yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
7.      Guru menyampaikan kompetensi dan tujuan yang akan dicapai dan manfaatnya dalam  kehidupan sehari-hari
8.      Guru menyampaikan garis besar materi pembelajaran dan penilaian yang akan dilakukan.


                                                Inti
  70 Menit
Stimulus (pemberian rangsangan)
·         Siswa mengamati gambar  yang telah tersedia mengenai Peran tokoh nasional dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
·         Siswa menjelaskan secara singkat tentang Peran tokoh nasional dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
Problem statement (pertanyaan/ identifikasi masalah)  
·         Siswa membaca buku siswa sejarah wajib kelas XI tentang Peran tokoh nasional dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
·         Siswa mendiskusikannya dan merumuskan  pertanyaan. Siswa juga bisa menggunakan sumber pendukung lainnya.
Data collection (Pengumpulan data)
Siswa dibagi kedalam 4 kelompok 
·         Wacana
Sebelum menjadi negara yang merdeka seperti sekarang ini, Indonesia telah berjuang untuk menegakkan keamanan, perdamaian dan menjaga keutuhan wilayah bangsa Indonesia. Banyak orang yang gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ternyata perjuangan mereka tidak sampai disitu saja karena setelah Indonesia merdeka, mereka masih harus berjuang mengatasi ancaman dari luar dan melawan ancaman dari dalam. Inilah beberapa nama tokoh yang berperan dalam perjuangan bangsa pada masa 1948 – 1965.

Perintah
1.      Jelaskanlah apa yang anda ketahui tentang peran tokoh nasional dalam perjuangan menegakkan Negara republik Indonesia?\
a, Ir. Soekarno
b. M. Hatta
c. KH. Ahmad Dahlan
d. Ki Hadjar Dewantara
Data processing (pengolahan data)
·         Siswa mencatat jawaban dari pertanyaan yang tersedia
Verification (pembuktian)
·         Siswa mencocokkan antara hasil diskusi dengan buku sumber mengenai pertanyaan yang muncul.
Generalization (menarik kesimpulan )
Banyak tokoh nasional yang ikut dan aktif dalam perjuangan menegakkan negara Republik Indonesia. Masing-masing tokoh memiliki peran yang berbeda pula dan kemampuan yang berbeda yang tujuannya sama-sama ingin menegakkan Negara Republik Indonesia.


                              Penutup
10 Menit
1.      Guru dan Peserta Didik menyimpulkan secara keseluruhan materi pada pertemuan ini
2.      Peserta didik dengan bimbingan guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran pada pertemuan ini
3.      Peserta didik diberi tugas kelompok menyelesaikan analisis dan alternatif solusi permasalahan yang menjadi kajian kelas.
4.      Peserta didik di tugaskan  untuk mengerjakan Tugas Individu
5.      Guru dan didik menutup kegiatan dengan mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan YME bahwa pertemuan kali ini telah berlangsung dengan baik dan lancar.








2.      Pertemuan Kedua
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
10 Menit
1.      Guru mengucapkan salam kepada peserta didik saat memasuki ruang kelas.
2.      Guru bersama Peserta didik melakukan kegiatan religious dan kegiatan literasi, sebelum memulai pelajaran
3.      Guru melakukan pengelolaan kelas (Guru memeriksa kesiapan peserta didik untuk belajar, mulai dari kebersihan kelas, kerapian pakaian siswa, serta kerapian meja dan kursi).
4.      Guru memeriksa absensi peserta didik.
5.      Guru menyiapkan alat, media, dan buku sumber yang diperlukan
6.      Guru melakukan tanya jawab yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
7.      Guru menyampaikan kompetensi dan tujuan yang akan dicapai dan manfaatnya dalam  kehidupan sehari-hari
8.      Guru menyampaikan garis besar materi pembelajaran dan penilaian yang akan dilakukan.

                                                Inti
  70 Menit
Stimulus (pemberian rangsangan)
·         Siswa mengamati gambar  yang telah tersedia mengenai Peran tokoh daerah dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
·         Siswa menjelaskan secara singkat tentang Peran tokoh daerah dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
Problem statement (pertanyaan/ identifikasi masalah)  
·         Siswa membaca buku siswa sejarah wajib kelas XI tentang  Peran tokoh daerah  dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia.
·         Siswa mendiskusikannya dan merumuskan  pertanyaan. Siswa juga bisa menggunakan sumber pendukung lainnya.
Data collection (Pengumpulan data)
Siswa dibagi kedalam 4 kelompok 
·         Wacana
Peran daerah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia cukup signifikan. Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah hasil perjuangan rakyat di seluruh wilayah Indonesia. Seluruh rakyat berjuang bersama untuk merebut hak bangsa yang diambil oleh penjajah. Semenjak kehadiran bangsa Barat yang berawal dengan perdangangan bangsa Indonesia menerima dengan terbuka sebab semenjak dahulu sudah menjalin hubungan perdagangan dengan wilayah lain. Namun dengan perubahan sikap bangsa Barat yang ingin menguasai dan menjajah Indonesia, maka perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan hak tidak pernah kunjung padam.
Kedatangan bangsa Portugis, Belanda, dan Jepang di wilayah Indonesia yang diteruskan dengan penjajahan, memperoleh perlawanan dari bangsa Indonesia di berbagai daerah. Perlawanan selama penjajahan Portugis antara lain perlawanan rakyat Maluku dipimpin oleh Sultan Harun, perlawanan rakyat Demak menyerang Malaka dipimpin oleh Pati unus dan menyerang Sunda Kelapa dipimpin oleh Falatehan. Selama penjajahan Belanda banyak perlawanan antara lain perlawanan rakyat Aceh dipimpin oleh Tjut Nyak Dien, Teuku Umar, Panglima Polem, dan yang lain. Perlawanan rakyat di Sumatera Utara dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja XII. Perlawanan di daerah Jawa dengan tokohnya seperti Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Agung, dan Pangeran Diponegoro. Di Kalimantan rakyat melawan penjajahan dipimpin oleh Pangeran Antasari, perlawanan rakyat Sulawesi dengan tokoh Sultan Hasanudin dan Maluku dipimpin oleh Pattimura,serta perlawanan rakyat Bali dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik.
Perjuangan merebut kemerdekaan mengalami perubahan strategi setelah kebangkitan nasional 1908. Perjuangan yang sebelumnya bersifat fisik dan kedaerahan, menjadi perjuangan dengan mengedepankan organisasi dan bersifat nasional. Kesadaran nasional bahwa perjuangan tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan fisik dan tergantung pada pemimpin, namun lebih mengandalkan melalui pergerakan yang terorganisasi dan tidak tergantung pemimpin. Perjuangan memerlukan persatuan seluruh rakyat Indonesia dan untuk seluruh rakyat Indonesia. Pada saat perjuangan ini berdirilah oraganisasi perjuangan di beberapa daerah seperti Jong Minahasa, Jong Islamiten Bond, Jong Ambon, Budi Utomo, Sarekat Islam, Partai Nasional Indonesia, dan sebagainya. Juga muncul tokoh asal daerah di Indonesia yang menjadi tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Husni Thamrin, Muhammad Hatta, Liem Koen Hian, Andi Pettarani, A.A Maramis, Latuharhary, dan tokoh nasional yang lain.
Perjuangan ini terus berlanjut setelah kemerdekaan untuk mempertahankan kemerdekaaan dari keinginan Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Berbagai peristiwa sejarah mencatat kegigihan para pejuang Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Seperti peristiwa pertempuran Ambarawa, peristiwa Bandung Lautan Api, perang gerilya Jenderal Soedirman, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dan peristiwa perjuangan yang lain.
Keterikatan daerah pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ditegaskan dengan disepakati bentuk negara kesatuan yang menghendaki bersatunya seluruh wilayah Indonesia dalam satu negara. Wilayah Indonesia yang sebelum kemerdekaan terdiri atas beberapa kerajaan atau bentuk lain, menyatu menjadi satu kesatuan negara. Peristiwa saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan bahwa wilayah kerajaannya adalah bagian dari NKRI adalah contoh keteguhan akan bentuk negara kesatuan. Tekad bentuk negara kesatuan yang telah disepakati oleh para pendiri negara ini harus terus dipahami dan dilestarikan oleh seluruh bangsa Indonesia, termasuk kalian sebagai pelajar dan generasi muda Indonesia. Proklamasi kemerdekaan yang telah dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945 adalah hasil perjuangan seluruh bangsa Indonesia di seluruh tanah air. Berbagai monumen bersejarah yang menggambarkan perjuangan daerah dalam melawan penjajahan membuktikan apa yang dinyatakan itu.
Perintah
1.      Jelaskanlah apa yang anda ketahui tentang peran tokoh daerah dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia?
a.       Pangeran Diponegoro
b.      Imam Bonjol
c.       Kapiten Pattimura
d.      Teuku Umar

Data processing (pengolahan data)
·         Siswa mencatat jawaban dari pertanyaan yang tersedia
Verification (pembuktian)
·         Siswa mencocokkan antara hasil diskusi dengan buku sumber mengenai pertanyaan yang muncul.
Generalization (menarik kesimpulan )
Banyak tokoh dari daerah yang ikut dan aktif dalam perjuangan menegakkan negara Republik Indonesia. Masing-masing tokoh memiliki peran yang berbeda pula da juga berasal dari daerah yang berbeda dengan sama-sama ingin menegakkan Negara Republik Indonesia.

                              Penutup
10 Menit
1.      Guru dan Peserta Didik menyimpulkan secara keseluruhan materi pada pertemuan ini
2.      Peserta didik dengan bimbingan guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran pada pertemuan ini
3.      Peserta didik diberi tugas kelompok menyelesaikan analisis dan alternatif solusi permasalahan yang menjadi kajian kelas.
4.      Peserta didik di tugaskan  untuk mengerjakan Tugas Individu
Guru dan didik menutup kegiatan dengan mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan YME bahwa pertemuan kali ini telah berlangsung dengan baik dan lancar.


·         Pertemuan Ketiga
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
10 Menit
9.      Guru mengucapkan salam kepada peserta didik saat memasuki ruang kelas.
10.  Guru bersama Peserta didik melakukan kegiatan religious dan kegiatan literasi, sebelum memulai pelajaran
11.  Guru melakukan pengelolaan kelas (Guru memeriksa kesiapan peserta didik untuk belajar, mulai dari kebersihan kelas, kerapian pakaian siswa, serta kerapian meja dan kursi).
12.  Guru memeriksa absensi peserta didik.
13.  Guru menyiapkan alat, media, dan buku sumber yang diperlukan
14.  Guru melakukan tanya jawab yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
15.  Guru menyampaikan kompetensi dan tujuan yang akan dicapai dan manfaatnya dalam  kehidupan sehari-hari
16.  Guru menyampaikan garis besar materi pembelajaran dan penilaian yang akan dilakukan.

                                                Inti
  70 Menit
Stimulus (pemberian rangsangan)
·         Siswa mengamati gambar  yang telah tersedia mengenai Peran tokoh daerah dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
·         Siswa menjelaskan secara singkat tentang Peran tokoh daerah dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia
Problem statement (pertanyaan/ identifikasi masalah)  
·         Siswa membaca buku siswa sejarah wajib kelas XI tentang  Peran tokoh daerah  dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia.
·         Siswa mendiskusikannya dan merumuskan  pertanyaan. Siswa juga bisa menggunakan sumber pendukung lainnya.
Data collection (Pengumpulan data)
Siswa dibagi kedalam 4 kelompok 
·         Wacana
Peran daerah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia cukup signifikan. Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah hasil perjuangan rakyat di seluruh wilayah Indonesia. Seluruh rakyat berjuang bersama untuk merebut hak bangsa yang diambil oleh penjajah. Semenjak kehadiran bangsa Barat yang berawal dengan perdangangan bangsa Indonesia menerima dengan terbuka sebab semenjak dahulu sudah menjalin hubungan perdagangan dengan wilayah lain. Namun dengan perubahan sikap bangsa Barat yang ingin menguasai dan menjajah Indonesia, maka perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan hak tidak pernah kunjung padam.
Kedatangan bangsa Portugis, Belanda, dan Jepang di wilayah Indonesia yang diteruskan dengan penjajahan, memperoleh perlawanan dari bangsa Indonesia di berbagai daerah. Perlawanan selama penjajahan Portugis antara lain perlawanan rakyat Maluku dipimpin oleh Sultan Harun, perlawanan rakyat Demak menyerang Malaka dipimpin oleh Pati unus dan menyerang Sunda Kelapa dipimpin oleh Falatehan. Selama penjajahan Belanda banyak perlawanan antara lain perlawanan rakyat Aceh dipimpin oleh Tjut Nyak Dien, Teuku Umar, Panglima Polem, dan yang lain. Perlawanan rakyat di Sumatera Utara dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja XII. Perlawanan di daerah Jawa dengan tokohnya seperti Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Agung, dan Pangeran Diponegoro. Di Kalimantan rakyat melawan penjajahan dipimpin oleh Pangeran Antasari, perlawanan rakyat Sulawesi dengan tokoh Sultan Hasanudin dan Maluku dipimpin oleh Pattimura,serta perlawanan rakyat Bali dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik.
Perjuangan merebut kemerdekaan mengalami perubahan strategi setelah kebangkitan nasional 1908. Perjuangan yang sebelumnya bersifat fisik dan kedaerahan, menjadi perjuangan dengan mengedepankan organisasi dan bersifat nasional. Kesadaran nasional bahwa perjuangan tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan fisik dan tergantung pada pemimpin, namun lebih mengandalkan melalui pergerakan yang terorganisasi dan tidak tergantung pemimpin. Perjuangan memerlukan persatuan seluruh rakyat Indonesia dan untuk seluruh rakyat Indonesia. Pada saat perjuangan ini berdirilah oraganisasi perjuangan di beberapa daerah seperti Jong Minahasa, Jong Islamiten Bond, Jong Ambon, Budi Utomo, Sarekat Islam, Partai Nasional Indonesia, dan sebagainya. Juga muncul tokoh asal daerah di Indonesia yang menjadi tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Husni Thamrin, Muhammad Hatta, Liem Koen Hian, Andi Pettarani, A.A Maramis, Latuharhary, dan tokoh nasional yang lain.
Perjuangan ini terus berlanjut setelah kemerdekaan untuk mempertahankan kemerdekaaan dari keinginan Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Berbagai peristiwa sejarah mencatat kegigihan para pejuang Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Seperti peristiwa pertempuran Ambarawa, peristiwa Bandung Lautan Api, perang gerilya Jenderal Soedirman, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dan peristiwa perjuangan yang lain.
Keterikatan daerah pada Negara Kesatuan Republik Indonesia ditegaskan dengan disepakati bentuk negara kesatuan yang menghendaki bersatunya seluruh wilayah Indonesia dalam satu negara. Wilayah Indonesia yang sebelum kemerdekaan terdiri atas beberapa kerajaan atau bentuk lain, menyatu menjadi satu kesatuan negara. Peristiwa saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan bahwa wilayah kerajaannya adalah bagian dari NKRI adalah contoh keteguhan akan bentuk negara kesatuan. Tekad bentuk negara kesatuan yang telah disepakati oleh para pendiri negara ini harus terus dipahami dan dilestarikan oleh seluruh bangsa Indonesia, termasuk kalian sebagai pelajar dan generasi muda Indonesia. Proklamasi kemerdekaan yang telah dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945 adalah hasil perjuangan seluruh bangsa Indonesia di seluruh tanah air. Berbagai monumen bersejarah yang menggambarkan perjuangan daerah dalam melawan penjajahan membuktikan apa yang dinyatakan itu.
Perintah
2.      Jelaskanlah apa yang anda ketahui tentang peran tokoh daerah dalam perjuangan menegakkan Negara republik indonesia?
e.       Pangeran Diponegoro
f.       Imam Bonjol
g.      Kapiten Pattimura
h.      Teuku Umar

Data processing (pengolahan data)
·         Siswa mencatat jawaban dari pertanyaan yang tersedia
Verification (pembuktian)
·         Siswa mencocokkan antara hasil diskusi dengan buku sumber mengenai pertanyaan yang muncul.
Generalization (menarik kesimpulan )
Banyak tokoh dari daerah yang ikut dan aktif dalam perjuangan menegakkan negara Republik Indonesia. Masing-masing tokoh memiliki peran yang berbeda pula da juga berasal dari daerah yang berbeda dengan sama-sama ingin menegakkan Negara Republik Indonesia.

                              Penutup
10 Menit
5.      Guru dan Peserta Didik menyimpulkan secara keseluruhan materi pada pertemuan ini
6.      Peserta didik dengan bimbingan guru melakukan refleksi terhadap pembelajaran pada pertemuan ini
7.      Peserta didik diberi tugas kelompok menyelesaikan analisis dan alternatif solusi permasalahan yang menjadi kajian kelas.
8.      Peserta didik di tugaskan  untuk mengerjakan Tugas Individu
Guru dan didik menutup kegiatan dengan mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan YME bahwa pertemuan kali ini telah berlangsung dengan baik dan lancar.


    I. Penilaian
Dalam proses pembelajaran akan dilakukan penilaian proses dan hasil belajar dalam aspek pengetahuan dan keterampilan, yaitu:
a.       Penilaian kompetensi kognitif (terlampir )
Teknik penilaian  : tes tertulis
Bentuk instrumen            :
-          Soal objektif
-          Soal essay           
b.      Penilaian kompetensi keterampilan (terlampir)
Teknik penilaian  : penilaian praktik
Bentuk instrumen            : skala penilaian (Rating scale)


Mengetahui,
Kepala Sekolah

Drs. Yofrizal, M.Pd
NIP. 19620711 198603 1 004
Padang, 23 Juli 2018
Guru Mata Pelajaran

Drs. Yofrizal, M.Pd
NIP. 19620711 198603 1 004

Lampiran : Instrumen Penilaian Pengetahuan
a.               Soal esay

Pertemuan 1
No
Soal
HOTS/LOTS
Jawaban
Skor
1
Jelaskanla peran Bung Karno dalam perjuangan menegakkan Negara RI?
     HOTS

1 Berusaha menanamkan kekuasaan di Maluku
2.       Menyebarkan agama Katolik  di daerah-daerah yang dikuasai
3.       Mengembangkan bahasa dan seni musik keroncong Portugis
4.      Sistem monopoli  perdagangan cengkih dan pala di Ternate

50
2
Jelaskanlah yang anda ketahui tentang Achmad Soebardjo?

LOTS
  1. Terganggu dan kacaunya jaringan perdagangan.
  2. Banyaknya  orang-orang  beragama Katolik   di  daerah pendudukan  Portugis. 
  3. Rakyat menjadi miskin dan menderita. 
  4. Tumbuh benih rasa benci terhadap kekejaman Portugis. 
5.      Munculnya rasa persatuan dan kesatuan rakyat Maluku untuk menentang Portugis. 
50
3
Jelaskanlah yang diketahui tentang Sukarni?

Soekarno, Moh.Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat

4
Jelaskanlah yang diketahui  tentang Fatmawati?

Berita bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945.


Jumlah Skor
100

Pertemuan 2
1
Jelaskanlah yang anda ketahui tentang Pangeran Diponegoro?
HOTS
Soekarno, Mo. Hatta dan juga bersama Achmad Soebardjo, Soekarni, Burhanudin uhammad Diah, Sudiro dan Sayuti Malik. Soekarno menulis naskah sedangkan Hatta dan Achmad Soebardjo menyumbangkan idenya.  Kemudian naskah di ketik oleh Sayuti Melik.Naskah ditanda tangani oleh Soekarno dan Hatta.
25
2
Jelaskanlah yang anda ketahui tentang Nyi Ageng Serang
HOTS
Tanggal 17 Agustus 1945  rumah Soekarno telah dipenuhi baik golongan muda dan tua datang kelokasi. Kemudian pada jam 10.00 WIB pembacaan naskah proklamasi dimulai.Setelah pembacaan teks selesai, Sudanco Suhud dan Latief Hendraningrat mengibarkan bendera merah putih dan diikuti dengan lagu Indonesia Raya. Makna dari proklmasi adalah:
·         Titik puncak perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan
·      Indonesia terpelas dari belenggu penjajahan
Lahirnya Negara Republik Indonesia
25
3
Jelasknalah yang diketahui tentang Sisingamangraja XII?
HOTS
Penyusunan naskah proklamasi dilakukan pada tanggal 16 Agustus di  rumah Laksamana Maeda Jalan Iman Bonjol No.1
25
4
Jelaskanlah yang diketahui tentang Martha Christina Tiahahu?
LOTS
Istri bapak Ir.Soekarno danberperan dalam menjahit bendera merah putih.
25

 Jumlah skor
100



b.   Soal Pilihan Ganda
NO
HOTS/LOTS
Soal Pilihan Ganda
1
LOTS
Perlawanan yang terjadi pada abad ke-16 diberbagai daerah ditujukan kepada…….., kemudian perlawanan rakyat pada abad ke-17 dan 18 umumnya ditujukan kepada ….
a.       VOC, Portugis, Inggris dan Spanyol
b.      Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis
c.       Portugis, Spanyol, Belanda dan VOC
d.      VOC dan Inggris
e.       Belanda dan Portugis
2
HOTS
Portugis adalah bangsa pertama yang menjajah Nusantara. Faktor utama yang memicu perlawanan rakyat Indonesia terhadap bangsa Portugis adalah……
a.       Intervensi terhadap urusan internal kerajaan-kerajaan pribumi
b.      Monopoli perdagangan rempah-rempah
c.       Terserapnya kerajaan pribumi ke dalam struk kekuasaan Portugis
d.      Upaya kristinisasi di wilayah timur Nusantara
e.      Adanya imperialism budaya
3
HOTS
Dibawah Sultan Hasanuddun, Kesultanan Makassar berperang dengn VOC pada tahun 1665. Dalam perang itu. Makassar kalah. Sultan Hasanuddin terpaksa tunduk pada perjanjian Bongaya pada tahun 1667. Dibawah ini yang bukan termasuk isi perjanjian tersebut adalah…
a.       Makassar wajib membiayai biaya perang
b.      takluk pada pada kesultanan Bone
c.       Pihak Barat selain VOC harus meninggalkan Makassar
d.      Makassar menerima kebijakan monopoli perdagangan  VOC
e.       VOC membangun benteng di Makassar
4
LOTS
Portugis melancarkan serangan ke Aceh di bawah pimpinan Herigues pada tahun……. Dan menyusul pada tahun…. Di pimpinoleh de Sauza
a.      1523 dan 1524
b.      1523 dan 1526
c.       1524 dan 1525
d.      1524 dan 1526
e.       1525 dan 1526
5
HOTS
Menghadapi serangan pasukan Banten, VOC terus memperkuat kota Batavia dengan…..
a.      Mendirikan benteng-benteng pertahanan seperti Benteng Noordwijk
b.      Bekerja sama dengan Sultan Agun dari kerajaan Mataram
c.       Membangun loji
d.      Politik devide et impera
e.       Memutuskan jalur perdagangan ke Siak
6
LOTS
Perang yang terjadi di Minangkabau, Sumatera Barat pada tahun 1821 dikenal dengan perang….
a.       Perang Batak
b.      Perang Tondano
c.       Perang Padri
d.      Perang Minang
e.       Perang Banjar
7
HOTS
Setelah memalui bujuk rayu disertai tekanan-tekann oleh Belanda terhadap kerajaan Banjar, maka pada tahun 1817 terjadi perjanjian Sultan Banjar (Sultan Sulaiman) dengan pemerintahan Hindia Belanda, yang mengakibatkan…….
a.      Wilayah kekuasaan Kesultana Banjarmasin semakin sempit, sementara daerah kekuasaan Belanda semakin bertambah
b.      Semakin kuatnya kerja sama pemerintahan dengan Kesultana Banjar
c.       Daerah Kekuasan Belanda jatuh ketangan Kesultanan Banjar
d.      Belanda semakin terpuruk
e.       Kurangnya respon rakyat terhadap wewenang sultan
8
LOTS
Pemimpin dari peperangan di Kalimantan Selatan adalah…
a.       Tuanku Imam Bonjol
b.      Sultan Agen Tirtayasa
c.       Sultan Hasanuddin
d.      Soetomo
e.       Pangeran Antasari
9
LOTS
Pada tanggal 17 Oktober 1829 ditandatangani Perjajnjian Imogiri antar Sentot Prawiridirjo dengan pihak Belanda. Isi perjanjian itu antara lain kecuali…
a.       Sentot diizinkan untuk tetap memeluk Islam
b.      Pasukan Sentot tidak dibubarkan dan ia tetap sebagai komandannya
c.       Sentot dengan pasukannya diizinkan untuk tetap memakai sorban
d.      Sentot diberikan tambahan pasukan
10
HOTS
Perang Paderi semula merupakan perang saudara kemudian berubah menjadi perang colonial, karena….
a.      Kaum adat dan Paderi bersatu menghadapi Belanda
b.      Inggris dan Belanda bersatu menghadapi kaum Paderi
c.       Yang dihadapi kaum paderi adalah Inggris
d.      Belanda dan kaum adat bersatu melawan kaum Paderi
e.       Yang dihadapi kaum paderi adalah kaum adat
11
HOTS
Timbulnya perlawanan Kalimantan Selatan adad XIX disebabkan oleh….
a.      Pengangkatan Sultan Tamjidullah sebagai Sultan Banjar oleh pihak Belanda
b.      Pengkhianatan Belanda atas perjanjian persahabatan dengan rakyat Banjar
c.       Pengangkatan Pangeran Hidayat sebagai Sultan Banjar oleh Belanda
d.      Serangan Belanda kek kesultanan Banjar
e.       Puncak kebencian rakyat terhadap praktik monopoli perdagangan di Banjar
12
LOTS
Pemimpin perlawanan Rakyat Tapanuli yang menentang Belanda adalah….
a.       Sisingamangaraja XI
b.      Sisingamangaraja XII
c.       Sisingamangaraja XIII
d.      Kyai Demang Lemang
e.       Untung Durachman
13
HOTS
Timbulnya perlawanan rakyat Bali menentang Belanda setelah Belanda berulang kali…
a.       Mengultimatum untuk menduduki Bali
b.      Melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan persahatan Bali-Belanda
c.       Memaksakan kehendaknya untuk melakukan monopoli perdagangan
d.      Memaksakan kehendak untuk menghapuskan Hak Tawan Karang
e.       Mengingkari perjanjian dengan kerajaan Klungkung dan Buleleng
14
HOTS
Berikut ini akibat perjanjian Bongaya (1667) yang sangat merugikan Makassar, kecuali…..
a.       Makassar harus menganti kerugian perang
b.      Makassar harus melepaskan semua kekuasaannya
c.       VOC mendirikan benteng di Makassar
d.      Makassar terbuka bagi semua bangsa asing
e.       Makassar harus tunduk terhadap monopoli VOC
15

 Salah satu sebab khusus terjadinya perang diponegoro adalah pangeran diponegoro tersingkir dari elite kekuasaan karena….
a.      Menolak berkompromi dengan pemerintah colonial
b.      Pangeran diponegoro ingin mengasingkan diri
c.       Pangeran diponegoro ingin menjadi raja
d.      Pemerintah kolonial ingin mengajak kerja sama pangeran diponegoro
e.      Pangeran diponegoro dibelit berbagai bentuk pajak




Skor  =  x 100 = ............ 
Keterangan:         
Skor Rerata
Huruf
88 – 100
      A
84 – 87
      B
80 – 83
      C



                                                                                                              

            Lampiran : Materi Ajar
TOKOH-TOKOH NASIONAL DAN DAERAH DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN
A.     Tokoh Nasional
Berikut penjelasan peran tokoh-tokoh nasional dalam menegakkan negara RI, terutama saat proklamasi kemerdekaan. Diampil dari posting di Kaskus dari user Madman95. Semoga itu yg dimaksud.

1. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Bung Karno sebagai tokoh pada masa perjuangan hingga masa kemerdekaan menjadi panutan bagi para pejuang kemerdekaan yang lain. Beberapa peran Bung Karno di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Bung Karno menyusun konsep teks proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda bersama Bung Hatta dan Mr. Achmad Soebardjo.
b. Bung Karno menandatangani teks Proklamasi atas nama bangsa Indonesia bersama Bung Hatta.
c. Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kediamannya di jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.

2. Wakil presiden Indonesia yang juga adalah Bapak Koperasi Indonesia Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat (kampung TS ), 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Bung Hatta adalah teman seperjuangan Bung Karno. Beberapa peran Bung Hatta dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Bung Hatta menyusun konsep teks proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda bersama Bung Karno dan Mr. Achmad Soebardjo.
b. Bung Hatta menandatangani teks Proklamasi atas nama bangsa Indonesia bersama Bung Karno.

3. Achmad Soebardjo Djojoadisurjo (lahir di Karawang, Jawa Barat, 23 Maret 1896 – wafat 15 Desember 1978 pada umur 82 tahun) adalah Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama. Mr. Achmad Soebardjo merupakan salah seorang tokoh dari golongan tua yang berperan dalam mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Adapun peranan Mr. Achmad Soebardjo adalah menyusun konsep teks proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda bersama Bung Karno dan Bung Hatta.

4. Sukarni (lahir di Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916 – wafat di Jakarta, 7 Mei 1971 pada umur 54 tahun), yang nama lengkapnya adalah Sukarni Kartodiwirjo, adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Sukarni adalah salah seorang tokoh pemuda dan pejuang yang gigih melawan penjajah. Peran Sukarni antara lain sebagai beriku:
a. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks Proklamasi adalah Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia.
b. Sukarni jugalah dan para golongan muda yang mendesak Soekarno & Hatta agar segera mempercepat proklamasi kemerdekaan RI.
ibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
B.     TOKOH DAERAH
Berikut adalah Tokoh-Tokoh dan Daerah dalam Perjuangan Menegakkan NKRI

1.      Pangeran Dipanegara, juga sering dieja Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 - meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia-Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.
Riwayat perjuangan Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Dipanegara di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. Sikap Dipanegara yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Dipanegara menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Dipanegara menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Dipanegara membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Dipanegara di Goa Selarong. Perjuangan Pangeran Dipanegara ini didukung oleh S.I.S.K.S. Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya Bupati Gagatan. Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Dipanegara. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Dipanegara. Sampai akhirnya Dipanegara ditangkap pada 1830..


2.      Sisingamangaraja XII (lahir di Bakara, 18 Februari 1845 -meninggal di Dairi,17 Juni 1907 pada umur 62 tahun) adalah seorang raja di negeri Toba,Sumatera Utara, pejuang yang berperang melawan Belanda, kemudian diangkat oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tanggal 9 November 1961 berdasarkan SK Presiden RI No 590/1961. Sebelumnya ia makamkan di Tarutung, lalu dipindahkan ke Soposurung, Baligepada tahun 1953.[1] Sisingamangaraja XII nama kecilnya adalah Patuan Bosar, yang kemudian digelari dengan Ompu Pulo Batu. Ia  juga dikenal dengan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon, selain itu ia juga disebut juga sebagai raja imam. Penobatan Sisingamangaraja XII sebagai maharaja di negeri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka) Belanda dalam mengamankan modal asing yang beroperasi di Hindia-Belanda, dan yang tidak mau menandatangani Korte Verklaring (perjanjian pendek) di Sumatera terutama Kesultanan Aceh dan Toba, di mana kerajaan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Di sisi lain Belanda sendiri berusaha untuk menanamkan monopolinya atas kerajaan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan Perang Tapanuli yang berkepanjangan hingga puluhan tahun. Perang melawan Belanda Pada tahun 1877 para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII. Kemudian pemerintah Belanda dan para penginjil sepakat untuk tidak hanya menyerang markas Si Singamangaraja XII di Bakara tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba. Pada tanggal 6 Februari 1878 pasukan Belanda sampai di Pearaja, tempat kediaman penginjil Ingwer Ludwig Nommensen. Kemudian beserta penginjil Nommensen dan Simoneit sebagai penerjemah pasukan Belanda terus menuju ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan [butuh rujukan]. Namun kehadiran tentara kolonial ini telah memprovokasi Sisingamangaraja XII, yang kemudian mengumumkan pulas (perang) pada tanggal 16 Februari 1878 dan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan. Pada tanggal 14 Maret 1878 datang Residen Boyle bersama tambahan pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Engels sebanyak 250 orang tentara dariSibolga. Pada tanggal 1 Mei 1878, Bangkara pusat pemerintahan Si Singamangaraja diserang pasukan kolonial dan pada 3 Mei 1878 seluruh Bangkara dapat ditaklukkan namun Singamangaraja XII beserta pengikutnya dapat menyelamatkan diri dan terpaksa keluar mengungsi. Sementara para raja yang tertinggal di Bakara dipaksa Belanda untuk bersumpah setia dan kawasan tersebut dinyatakan berada dalam kedaulatan pemerintah Hindia-Belanda. Walaupun Bakara telah ditaklukkan, Singamangaraja XII terus melakukan perlawanan secara gerilya, namun sampai akhir Desember 1878 beberapa kawasan seperti Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, Gurgur juga dapat ditaklukkan oleh pasukan kolonial Belanda. Antara tahun 1883-1884, Singamangaraja XII berhasil melakukan konsolidasi pasukannya[butuh rujukan]. Kemudian bersama pasukan bantuan dari Aceh, secara ofensif menyerang kedudukan Belanda antaranya Uluan dan Balige pada Mei 1883serta Tangga Batu pada tahun 1884.


3.      Pattimura (atau Thomas Matulessy) (lahir di Haria, pulau Saparua,Maluku, 8 Juni 1783 - meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan nama Kapitan Pattimuraadalah pahlawan Maluku dan merupakan Pahlawan nasional Indonesia. Menurut buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan". Namun berbeda dengan sejarawan Mansyur Suryanegara. Dia mengatakan dalam bukunya Api Sejarah bahwa Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali. Perjuangan Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris.[3]Kata "Maluku" berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja.[4] mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahan dinas militer ini dipaksakan [5] Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura [4] Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura. Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia.
4.      Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 - meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan. Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni. Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.
5.    Martha Christina Tiahahu (lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800 - meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818 pada umur 17 tahun) adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Lahir sekitar tahun 1800 dan pada waktu mengangkat senjata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda. Martha Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekwen terhadap cita-cita perjuangannya. Sejak awal perjuangan, ia selalu ikut mengambil bagian dan pantang mundur. Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah) ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua. Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan. Ia bukan saja mengangkat senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang. Di dalam pertempuran yang sengit di Desa Ouw-Ullath jasirah Tenggara Pulau Saparua yang nampak betapa hebat srikandi ini menggempur musuh bersama para pejuang rakyat. Namun akhirnya karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman. Ada yang harus mati digantung dan ada yang dibuang ke Pulau Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak. Martha Christina berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati, namun ia tidak berdaya dan meneruskan bergerilyanya di hutan, tetapi akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa. Di Kapal Perang Eversten, Martha Christina Tiahahu menemui ajalnya dan dengan penghormatan militer  jasadnya diluncurkan di Laut Banda menjelang tanggal 2 Januari 1818. Menghargai jasa dan pengorbanan, Martha Christina dikukuhkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget